Namaku klarinet, dan mulutku mencurigai mulutmu.
Aku teramat haus, tapi telingamu hanya menatapku.
Baiklah, di bawah sorot lampu akan kupuja sepatumu.
Di depan kita, mereka yang hanya membawa bola mata
Mengira kita pasangan yang serasi meninggi menari.
Tapi namaku biolin, dan betapa dawaiku sudah beruban.
Dan kau masih hijau, masih menghapal khazanah lagu.
Mereka bertepuk tangan ketika terhunus pisau tiba-tiba
Dari balik lambungku, siap menyadap madu di lehermu.
Ternyata namaku kontrabass, dan aku jirih pada pujian.
Mereka memacumu ke puncak penuh karangan kembang.
Maka namaku masih marimba, dan kuseret kau ke danau
Di mana si komponis buta rajin mencuci telinga mereka.
nirwan dewanto
jatuh cinta pada puisi ini pada pembacaan pertama. efek "jleb"nya terasa manis dan menyakitkan.
No comments:
Post a Comment