Thursday, December 31, 2009
harapan di tahun 2010
“apa harapan kalian di tahun 2010 nanti? Kirim kesemua kontak kalian, seru lho dengan jawaban mereka. Jangan lupa dibales.”
yang pertama terfikir olehku setelah membaca sms itu:
sms yang ga penting banget.
Tapi kemudian terfikir lagi:
Harapanku? Mungkin supaya ga usah berpura2 sebanyak tahun ini.
Tak lama jawaban lain muncul:
Ah, mungkin memang aku hanya harus hidup sesuai jalan yang telah Ia tunjukkan kepadaku. Menjadi sesuatu yang palsu atau tidak.
Lalu ada pikiran lain yang menyanggah:
Hidup sesuai pentunjukNya? Hidup?
entahlah.
Tuesday, December 15, 2009
menjelang uas
Kurang dari 10 jam lagi tes dimulai. Sebenarnya aku sudah tak mau peduli. Tapi, kalau aku katakan kata-kata itu secara verbal, aku takut kalau kata2 itu akan menjadi bumerang bagi diriku sendiri.
Aku memang sudah tak peduli bila aku jatuh, namun aku belum mau jatuh sekarang.
Oke. Aku harus belajar lagi. MPKT. Masih lebih dari 100 halaman lagi yang harus kubaca. 100 x (40x25) halaman lagi. Aku harus semangat. Tapi aku benci menghafal. Aku hanya ingin paham dan mengerti. Tentang politik, bangsa, budaya, dan lingkungan hidup. Mungkin akan aku bagi beberapa poin menarik dari buku itu ke blog ini suatu hari nanti. Suatu hari. Nanti. Entah kapan.
Oke. Babay blog yang sepi. Sesepi ruang kosong di hati yang tiap hari kubersihkan dari berbagai kotornya perasaan. Sesepi malam-malam yang biasa kuisi dengan mengerjakan tugas makalah dan analisis masalah. Sesepi tidurku yang jarang diganggu mimpi. Sesepi sunyi yang kerap kali kurasakan saat menulis blog ini. Sesepi.... dirimu. Sesepi... sudahlah.
Aku memang sudah tak fokus. Bukan. Bukan salah sugar ray yang kini sedang bernyanyi untukku. Bukan salah kurikulum pendidikan yang mengharuskanku tes esok hari. Bukan. Ini salah waktu yang tak pernah mau berhenti untukku. Sedetik saja. Sedetik. Sedetik...
11:03 13desember 2009, minggu di kamar ditemani kakak yang tidur dengan muka yang seram.
Tentang sebuah keegoisan
Lihat. Betapa egoisnya aku. Betapa aku, orang yang hampir tak pernah kekurangan, mengeluarkan kata-kata yang menjijikan dari hati yang kotor.
Aku lelah. Aku egois. Melihat mereka duduk disitu setiap hari. Melihat wajah mereka menunduk setiap kali. Melihat mereka meratap meminta belas kasihan. Mendengar suara mereka memelas minta diperhatikan. Merasakan keberadaan mereka. Tak tahu apa yang ada di pikiran mereka. Mereka benar malang atau cuma sebuah profesi.
Hatiku telah terlanjur teriris melihat mereka. Sudah terlanjur luka. Berbekas. Telanjur membayangkan. Terlanjur mengira. Akankah aku seperti itu? Sendirian. Kotor. Meminta belas kasihan pada orang yang justru ku ganggu kenyamanannya. Meminta penyambung hidup pada orang yang justru ku usik kedamaiannya. Dengan ratapanku. Dengan keberadannku.
Aku tahu mengemis itu tak salah. Bukan merampok. Bukan mencuri, menjambret, memalak, atau sejenisnya. Tapi tetap saja. Aku takut. Bila seandainya nanti hidupku kan berakhir seperti itu. Aku tak ingin.
Aku mau membantu mereka... hanya saja.. aku tak tahu itu asli atau sebuah profesi.
11 desember 2009, sekitar jam 3 sore di perpus pusat ui depok.